1. Analisis
industri
Dalam suatu
penelitian penting mengenai daya saing internasional, agar industri suatu
negara dapat berhasil di pasar global, industry tersebut harus memiliki :
- Kondisi –
kondisi faktor yang menguntungkan
Hal Ini mencakup
terdapatnya sumber – sumber daya kunci (termasuk keterampilan, infrastruktur,
dan lembaga penelitian). Penelitian Michael Porter juga menemukan, bila negara
– negara mempunyai faktor kelemahan tertentu, mereka akan di paksa berinovasi
untuk mengatasi (atau menghindari) masalah-masalah tersebut. Hal ini, pada
saatnya, membentuk dasar dari keunggulan kompetitif (misalnya, bila sejak awal
biaya energi di suatu negara tinggi, maka hal tersebut memaksa perlunya dikembangkan
produk – produk dan proses – proses yang hemat energi, yang kemudian di
perlukan di seluruh dunia).
- Kondisi –
kondisi permintaan
Di dalam negeri
harus ada permintaan yang kuat akan produk – produk yang canggih. Konsumen
dalam negeri yang penurut merupakan kerugian, karena mereka tidak mendesak
industri untuk berinovasi dan mencapai yang terbaik.
- Indusri –
industri yang berkaitan dan mendukung
Suatu jaringan
industri yang mendukung dan berkaitan akan membantu indutri untuk mencapai
keunggulan global.
- Strategi,
struktur, dan persaingan yang teguh
Dari
faktor-faktor ini, barang kali yang paling penting adalah jangkauan persaingan
pada industri dalam negeri. Bukti- bukti secara kuat mendukung pandangan bahwa
persaingan dalam negeri adalah sangat penting. Sebaliknya, bila pemerintah
mendorong merger untuk menciptakan monopoli dalam negeri (untuk mendapatkan
‘masa kritis’ yang di perlukan untuk menjadi pemain global), secara keseluruhan
monopoli tersebut tidak berhasil menetapkan posisi di dunia. Persaingan yang
pahit diantara perusahaan-perusahaan setempat telah menjadi pemacu inovasi.
2. Keunggulan Kompetitif
2. Keunggulan Kompetitif
a. Mengurangi
Biaya vs Adaptasi pada Pasar Lokal
Perusahaan harus
menstandardisasi produk dan jasanya untuk kebutuhan pasar secara global.
Pendekatan yang diberikannya didasarkan pada tiga asumsi utama :
* Kebutuhan dan
keinginan konsumen secara keseluruhan semakin homogen. Disini perusahaan harus
dapat mengidentifikasi segmen konsumen secara global.
* Orang-orang
diseluruh dunia rela berusaha untuk mendapatkan keinginannya yang berhubungan
dengan fitur produk, fungsi, desain, dan hal-hal lain seperti produk berharga
murah dengan kualitas yang baik.
* Skala ekonomi
pada produksi dan pemasaran dapat diperoleh dengan memasok pasar global.
Perspektif ini perlu memperhatikan tiga hal. Pertama, pengembangan teknologi
dengan penggunaan mesin memungkinkan skala ekonomi terpenuhi dan tidak
memerlukan produksi pada satu produk terstandarisasi. Kedua, biaya produksi
hanya merupakan satu komponen dan sering menjadi hal yang penting untuk
menentukan total biaya pembuatan produk. Ketiga, strategi perusahaan tidak
boleh product-driven.
b.Tiga strategi
Internasional
* Strategi global
Strategi global
merupakan strategi yang menawarkan produk-produk standar ke berbagai pasar di
berbagai Negara yang berbeda. Strategi ini untuk mendekati pasar dunia dengan
produk-produk yang terstandarisasi. Strategi global menekankan pada biaya
rendah yang dapat tercapai dengan menekankan pada skala ekonomi dimana produk
dan jasa yang dihasilkan terstandarisasi dan tersentralisasi pada operasi di
beberapa lokasi.
Produk tersebut
diciptakan, untuk konsumen yang menyukai produk standar dengan harga murah yang
dihasilkan oleh perusahaan global yang menggunakan operasinya di seluruh dunia
untuk bersaing dengan pasar lokal. Unit yang digunakan untuk produksi/operasi
di setiap Negara diasumsikan saling tergantung dan menawarkan lebih banyak
peluang untuk mendayagunakan inovasi yang dikembangkan pada berbagai tingkat
perusahaan.
Strategi global
menekankan pada skala ekonomi dengan produk dan jasa yang terstandadisasi dan
juga tersentralisasi pada operasi di beberapa lokasi. Satu keunggulan strategi
global berasal dari inovasi perusahaan yang muncul dari usaha setiap unit
bisnis atau perusahaan corporat, yang dapat ditrasfer secara mudah ke lokasi
yang lain walaupun biaya dapat diminimalkan perusaan yang mengadopsi strategi
ini pada umumnya harus memanfaatkan peluang untuk pertumbuhan pendapatan
mengingat perusahaan tidak berinvestasi pada sumber daya yang ekstensif untuk
adaptasi yang ditawarkan dari satu pasar ke pasar lain. Strategi global paling
tepat digunakan ketika terdapat tekanan yang kuat untuk mengurangi biaya
produksi dan sedikitnya tekanan untuk mengadaptasi pasar lokal. Keunggulan lain
dari strategi global adalah bahwa strategi ini memungkinkan perusahaan untuk
menciptakan level kualitas yang standar secara global.
Selain keunggulan
strategi ini, ada hal-hal yang perlu diperhatikan perusahaan yang berhubungan
dengan risiko penggunaan strategi global, yaitu :
1) Perusahaan
yang dapat menikmati skala ekonomi hanya dapat berkonsentrasi pada sumber daya
yang scale-sensitive dan aktivitas pada satu atau beberapa lokasi.
2) Konsentrasi
geografis pada kegiatan perusahaan cenderung menutup kegiatan tersebut dari
target pasar.
3)
Mengonsentrasikan kegiatan pada satu lokasi membuat perusahaan menjadi
tergantung pada lokasi tersebut.
* Strategi
Multidomestik
Strategi
multidomestik berbeda dengan strategi global, pembuatan keputusan pada
perusahaan cenderung lebih terdesentralisasi dalam hal pembuatan produk dan
juga dengan desentralisasi memungkinkan perusahaan untuk dapat merespon pasar
secara cepat apabila terdapat perubahan permintaan. Beberapa resiko yang
berhubungan dengan adopsi strategi multidomestik diperusahaan :
1) Pada umumnya,
adopsi lokal pada produk dan jasa dapat meningkatkan struktur biaya perusahaan.
2) Konsisten
dengan aspek lain dalam pemasaran global, derajat optimal dari adaptasi lokal
berkembang setiap waktunya.
* Strategi
Transnasional
Perusahaan multi
nasional mengadopsi strategi transnasional yang mencoba mengoptimalkan tarik
ulur (trade-off) antara efisiensi, adaptasi lokal, dan pembelajaran. Perusahaan
mencari efisiensi untuk mendapatkan keunggulan kompetitif secara global.
Sedangkan adaptasi lokal bertujuan
sebagai alat fleksibilitas operasi internasional. Seperti halnya strategi
multidomestik dan global, terdapat resiko dan situasi yang menantang untuk
dapat menerapkan strategi transnasional :
1) Pilihan pada
lokasi yang terlihat optimal tidak dapat menjadi jaminan kualitas dan biaya
dari faktor input (seperti pekerja, material, dan lain-lain) juga akan menjadi
optimal.
2) Walaupun
pemindahan pengetahuan dapat menjadi sumber utama dari keunggulan kompetitif,
hal tersebut tidak dapat terjadi otomatis. Agar dapat melakukan transfer
pengetahuan, penting bagi sumber pengetahuan, target unit, dan perusahaan induk
untuk mengetahui nilai potensial dari pengetahuan yang unik.
3. Persaingan
global dan keunggulan kompetitif nasional
Selama bebarapa
dekade terakhir, persaingan telah mendunia dalam banyak industri. Penyebabnya
adalah penurunan tarif, kuota dan hambatan-hambatan perdagangan bebas perbaikan
sistem transportasi global dan meningkatnya kecanggihan pasar dunia.
Faktor-faktor tersebut berperan mengurangi biaya perdagangan internasional dan
membuat perusahaan asing mampu berkompetisi dengan perusahaan lokal.
Penurunan hambatan perdagangan mempermudah ekspansi ke luar negeri bagi perusahaan-perusahaan
yang gesit dan agresif. Apakah implikasi kompetisi global terhadap
akuntansi manajerial? Akan sangat sulit bagi perusahaan untuk bersaing di dunia
internasional bila perencanaan, pengarahan, dan pengendalian operasinya, serta
pengambilan keputusannya menggunakan sistem akuntansi manajemen kelas dua.
Sistem akuntansi manajemen yang tidak bagus dapat menghalangi usaha organisasi
untuk menjadikan persusahaan benar-benar kompettitif.
Teori keunggulan
kompetitif dikemukakan oleh Michael Porter dalam bukunya The Competitve
Advantage of Nation (1990). Menurut Porter tidak ada korelasi langsung antara
dua faktor produksi (sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia
yang murah) yang dimiliki suatu negara, yang dimanfaatkan menjadi keunggulan
daya saing dalam perdagangan internasional. Banyak negara di dunia yang jumlah
sumber daya alamnya sangat besar yang proporsional dengan luas negerinya,
tetapi terbelakang dalam daya saing perdagangan internasional. Begitu juga
dengan tingkat upah yang relatif murah daripada negara lain, justru berkorelasi
erat dengan rendahnya motivasi bekerja yang keras dan berprestasi.
Porter
mendefinisikan industri sebuah negara sebagai sukses secara internasional jika
memiliki keunggulan kompetitif relatif terhadap para pesaing terbaik di seluruh
dunia. Sebagai indikator ia memilih keberadaan ekspor yang besar dan bertahan
lama dan/atau investasi asing di luar wilayah yang signifikan berdasarkan pada
keterampilan dan aktiva yang diciptakan di negara asal.
Kemakmuran nasional
diciptakan, bukan diwariskan. Kemakmuran negara tidak tumbuh dari sumbangan
alamiah sebuah negara, kumpulan tenaga kerjanya, tingkat bunganya atau nilai
kursnya, sebagaimana dikemukakan oleh ekonom klasik. Daya saing sebuah negara
tergantung pada kapasitas industrinya untuk berinovasi dan melakukan
pembaharuan. Perusahaan memperoleh keunggulan terhadap para pesaing dunia
yang terbaik, karena tekanan dan tantangan. Mereka mendapatkan manfaat dari
memiliki pesaing domestik yang kuat, pemasok yang berbasis daerah asal yang
agresif, dan para pelanggan lokal.
Hal ini
disebabkan 4 kategori yang menciptakan keunggulan kompetitif nasional dalam
bersaing untuk menciptakan suatu keunggulan dalam bisnis :
- Kondisi faktor,
yang mengacu pada lahan untuk pendukung bisnis tersedia, tenaga kerja yang
mapan dan memadai dalam mendukung bisnis, sumber daya alam yang baik untuk
mendukung kegiatan industri dan bisnis, modal dan infrastruktur baik yang ada
dalam suatu negara. Ini merupakan faktor mendukung dalam perkembangan dan
pendukung suatu kegiatan bisnis dan ekonomi yang baik dalam negara tersebut.
- Kondisi
permintaan dalam negeri yang dapat mendukung industri tersebut menjadi lebih
dikenal dan merupakan jalan untuk menjadi di kenal di luar negeri. Mis : Toyota
dahulunya hanya di produksi di Jepang saja, karena banyak peminat untuk membeli
mobil tersebut oleh orang Jepang sendiri, membuat mobil merek Toyota tersebut
di kenal sampai ke luar negeri. Kondisi permintaan di negara sendiri yang
mendukung keunggulan kompetitif memiliki tiga karakter, yaitu : a. Komposisi
permintaan di negara sendiri, dimana menentukan bagaimana perusahaan menerima,
menginterpretasikan dan memberi reaksi pada kebutuhan pembeli. Keunggulan
kompetitif dapat dicapai kalau permintaan di negara sendiri memberikan gambaran
yang lebih baik mengenai kebutuhan pembeli, lebih awal dari yang disediakan
oleh pesaing luar negeri. b. Ukuran dan pola pertumbuhan di negara sendiri,
adalah penting hanya bila komposisi permintaan di negara sendiri baik dan dapat
mengantisipasi permintaan di luar negeri. c. Pertumbuhan pasar dalam negeri
yang cepat.
- Industri
terkait dan pendukung, kehadiran pesaing internasional dalam suatu negara
dalam bidang yang terkait, dapat memberikan keunggulan kompetitif. Industri
pemasok secara internasional menyediakan masukan ke indsutri hilir dan akan
menjadi dapat bersaing dalam harga dan mutu.
- Cara manajemen
perusahaan dan keterampilan mengorganisasi perusahaan dalam suatu negara serta
menciptakan strategi untuk keunggulan dalam bisnis sangat menentukan. Mis:
Jerman, struktur perusahaan yang cenderung hirarkis, sehingga manajer yang
harus menangani industri dengan disiplin yang tinggi untuk menangani perusahaan
atau industri kimia, mesin dan lain-lain, harus berlatar belakang tehnik. Di
Italia, bisnis dijalankan seperti bisnis keluarga kecil, yang menekankan kepada
penyesuaian produk standard dan fleksibilitas yang cukup besar untuk memenuhi
permintaan pasar.
Selain keempat
faktor tersebut, keunggulan kompetitif nasional juga masih dipengaruhi
oleh faktor kebetulan atau kesempatan untuk melakukan sesuatu (chance events),
seperti penemuan produk baru, melonjaknya harga, perubahan nilai tukar, konflik
keamanan antar negara dan lain-lain, dan tindakan-tindakan atau kebijakan
pemerintah (government).